Dia bilang aku tak cantik
Dia bilang, aku bukan wanita terbaik
Dia bilang, hijabku percuma kugunakan
Dia bilang, semua yang menyakitkan
Saat hati ini mencoba menantang,
"Tuhan, jika aku tak baik bagi-Nya mengapa Kau satukan kami?"
Tuhan tak menjawab
Membiarkan tangisku kering dengan sendirinya
Waktu demi waktu berlalu
Menambah usia lukaku makin memanjang
Kembali,
Syaitan datang pada kami
Membuatnya gila, lalu mengucapkan kalimat tak baik
Satu kali
Ia berucap, kemudian ia menyesal
Ia menyalahkan,
Wanita yang tak pandai menjaga perasaan
Ia gunakan lidah saktinya
Untuk mainkan keadaan
Lalu, syaitan kembali datang
Entah mengapa, setitik nila membuatnya kembali gila
Kembali berucap hal yang dulu disesalinya
Aku hanya terdiam,
Tangisku tak bisa keluar
Kupaksa, namun hatiku tak dapat berdusta
Entah, kenapa hati ini tak resah
Kenapa aku tak takut untuk berpisah
Akankah hatiku terlalu membatu?
Akankah jiwaku terlalu kebal untuk lukanya?
Dia..
Didik aku sekeras baja
Ditempa bagai persiapan medan laga
Dia tak biarkan setetes air mataku jatuh
Baginya, wanita menangis tak menambah cantiknya
Melainkan kelemahan dan ketidakberdayaan
Dia,
Dia lupa bahwa aku gemar berdiskusi
Dia lupa bahwa aku gemar bercerita
Ia anggap diskusiku ajang debat
Ia anggap ceritaku sarana riya
Tidak..
Bila dia menganggap seperti itu..
Lalu pundak mana dapat kusandar
Telinga mana dapat mendengar
Dan tangan mana dapat mengusap keningku lagi?
Tuhan..
Kau belum jawab pertanyaanku
Aku terdiam dalam bingung yang amat sangat
Meski aku sangat menghargai pemberian waktu-Mu
Tuhan..
Aku tak dapat mengelak,
Bahwa dibalik derai air mataku
Kau tlah hadirkan dua sosok yang selalu menghiburku
Mereka yang lugu dan begitu lucu
Menjadi penawar kala hati membuyar
Dan Tuhan...
Ingatlah kataku..
Bahwa bila ia berucap sekali lagi,
Hukummu akan berlaku
Dan aku takkan pernah kembali padanya
Aku akan menjemput bahagiaku
Tuhan..
Izinkan aku menghirup nafas segar pada masa sulitku ini
Jadikan ramadhanku penghapus dosaku
Kelak, bila bahagiaku tak dapat kuraih
Setidaknya, aku tak lagi bersamanya
Aku yakin,
Kau menyayangiku lebih dari yang terkira
Semoga aku selalu menjadi hamba-Mu,
Dan semoga Kau selalu mendekapku siang dan malam
Dia bilang, aku bukan wanita terbaik
Dia bilang, hijabku percuma kugunakan
Dia bilang, semua yang menyakitkan
Saat hati ini mencoba menantang,
"Tuhan, jika aku tak baik bagi-Nya mengapa Kau satukan kami?"
Tuhan tak menjawab
Membiarkan tangisku kering dengan sendirinya
Waktu demi waktu berlalu
Menambah usia lukaku makin memanjang
Kembali,
Syaitan datang pada kami
Membuatnya gila, lalu mengucapkan kalimat tak baik
Satu kali
Ia berucap, kemudian ia menyesal
Ia menyalahkan,
Wanita yang tak pandai menjaga perasaan
Ia gunakan lidah saktinya
Untuk mainkan keadaan
Lalu, syaitan kembali datang
Entah mengapa, setitik nila membuatnya kembali gila
Kembali berucap hal yang dulu disesalinya
Aku hanya terdiam,
Tangisku tak bisa keluar
Kupaksa, namun hatiku tak dapat berdusta
Entah, kenapa hati ini tak resah
Kenapa aku tak takut untuk berpisah
Akankah hatiku terlalu membatu?
Akankah jiwaku terlalu kebal untuk lukanya?
Dia..
Didik aku sekeras baja
Ditempa bagai persiapan medan laga
Dia tak biarkan setetes air mataku jatuh
Baginya, wanita menangis tak menambah cantiknya
Melainkan kelemahan dan ketidakberdayaan
Dia,
Dia lupa bahwa aku gemar berdiskusi
Dia lupa bahwa aku gemar bercerita
Ia anggap diskusiku ajang debat
Ia anggap ceritaku sarana riya
Tidak..
Bila dia menganggap seperti itu..
Lalu pundak mana dapat kusandar
Telinga mana dapat mendengar
Dan tangan mana dapat mengusap keningku lagi?
Tuhan..
Kau belum jawab pertanyaanku
Aku terdiam dalam bingung yang amat sangat
Meski aku sangat menghargai pemberian waktu-Mu
Tuhan..
Aku tak dapat mengelak,
Bahwa dibalik derai air mataku
Kau tlah hadirkan dua sosok yang selalu menghiburku
Mereka yang lugu dan begitu lucu
Menjadi penawar kala hati membuyar
Dan Tuhan...
Ingatlah kataku..
Bahwa bila ia berucap sekali lagi,
Hukummu akan berlaku
Dan aku takkan pernah kembali padanya
Aku akan menjemput bahagiaku
Tuhan..
Izinkan aku menghirup nafas segar pada masa sulitku ini
Jadikan ramadhanku penghapus dosaku
Kelak, bila bahagiaku tak dapat kuraih
Setidaknya, aku tak lagi bersamanya
Aku yakin,
Kau menyayangiku lebih dari yang terkira
Semoga aku selalu menjadi hamba-Mu,
Dan semoga Kau selalu mendekapku siang dan malam